Ramainya Endorse Di Instagram

Ramainya Endorse Di Instagram

Ramainya Endorse di Instagram.- Ragam cerita boleh saja punya warna yang serba-serbi wah! makan enak, tempat yang indah, pakaian yang mewah, bahkan kalau perlu wajah yang cantik. Tapi ternyata bagi gadis desa ternyata itu hanya iklan endorse di sejumlah akun media sosial.

Aku terkenyit, saat seorang kawan membagikan tempat-tempat makan nan mewah. Ku pikir tentu dia sehabis menghamburkan sejumlah uang nya buat makanan enak di resto mahal. Ku bisik ke telinga, kapan traktir aku nduk?

Dia terkaget dengan kehadiran ku bak pendatang yang mampir tanpa salam. “Ini cuman endorse nis, pernah ajah kaga aku nis” jawaban nya menggelikan tapi ternyata itu bukan cerita dongeng serial bersambung. Itu nyata, tentang orang bayaran yang berusaha menghidupi keluarga dengan menjadi pajangan iklan di mesia sosialnya.

Ini hidup kawan! kita tidak akan bisa makan jika hanya berpangku tangan mengharapkan pemberian dari usaha jerih payah suami. Wanita harus pandai, agar keuangan dan hajat dapur bisa dipenuhi dan berkecukupan. Ini hidup kawan! karena harga BBM kadang naiknya tengah malam yang sedang gelap gulita tanpa penerang.

Endorse Instagram Tak Pernah Sepi

Oh iya hajat perusahaan juga ternyata membuat mereka berpikir keras mempromosikan produk jualan mereka. Ku kira hanya nenek pedagang buah-buahan yang teriak menjajakan dagangan nya. Ternyata produk berkelas pun tak mau ketinggalan. Teriak lantang melalui akun media sosial emak-emak modern yang melek teknologi kekinian.

Ternyata hidup itu keras ya kawan! bahkan perusahaan besar pun mengambil lahan basah pejual asungan. Saling memanfaatkan, entah siapa yang akan jadi pemenang. Emak yang mendapatkan bayaran atau perusahaan yang namanya populer dengan harga murah.

Nis… kau saja yang gaptek, tak pandai memanfaatkan peluang. Coba kau tenguk sesekali platform influencer marketing yang semakin berhamburan. Kali saja kau bisa tambah penghasilan buat beli gorengan. Tuh kita daftar gratis tanpa harus membayar. Kitalah yang malah harus di bayar.

Nis… kau kira sosial media itu media amal kah? yang ikhlas mempertemukan orang, kawan, dan kelurga yang saling berjauhan. Bukan Nis… kita mereka jadikan jualan, jualan untuk mendapatkan penghasilan. Lalu apa salahnya jika kita pun memanfaatkan sosial media buat mendapatkan tambahan.

Oh iya, kau benar juga. Ayo emak-emak bangkit membantu beban para suami yang semakin terjepit dengan harga listrik yang mulai bebes subsidi bajakan. Ayo gadis-gadis desa, jangan kau hanya dimanfaatkan oleh perusahaana yang bernama media sosial, padahal perusahaan kapitalis yang meraup banyak keuntungan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *